Showing posts with label Ketuhanan. Show all posts
Showing posts with label Ketuhanan. Show all posts

Wednesday, 25 May 2011

Allah Tuhan Kita



Salah satu pandangan yang senantiasa dilempar oleh kaum Pluralis Agama dalam 'menyesatkan' kaum Muslim, adaah bawasanya, "semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang satu". Mereka mengatakan, soal nama "Yang Satu" itu tidaklah penting. Yang Satu itu dapat dinamai Allah, God, Lord, Yahweh, The Real, The Eternal One, dan sebagainya. Bagi mereka, nama Tuhan tidak penting.

Ada yang menulis: "Dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Penyayang, Tuhan Segala agama." Kita ingat, dulu, ada cendekiawan terkenal yang mengartikan kalimat syahadat dengan: "Tidak ada tuhan (dengan t kecil), kecuali Tuhan (dengan T besar).

Tradisi yang tidak tahu dan tidak mempersoalkan nama Tuhan bisa kita telusuri dari tradisi Yahudi. Kaum Yahudi, hingga kini, masih berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti.

Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan 'Yahweh' sebagai "The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy."

Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca Yahweh. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).

Spekulasi Yahudi tentang nama Tuhan ini kemudian berdampak pada konsepsi Kristen tentang "nama Tuhan" yang sangat beragam, sesuai dengan tradisi dan budaya setempat. Di Mesir dan kawasan Timur Tengah lainnya, kaum Kristen menyebut nama Tuhan mereka dengan lafaz "Alloh", sama dengan orang Islam; di Indonesia mereka melafazkan nama Tuhannya menjadi "Allah"; dan di Barat kaum Kristen menyebut Tuhan mereka dengan "God" atau "Lord".

Bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.

Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama "Allah" untuk Tuhan mereka dan menggantinya dengan kata "Yahwe".

Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menemakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.'' Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah".

Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini". Kelompok ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi." (Tentang kontroversi penggunaan nama Allah dalam Kristen, bisa dilihat dalam buku-buku I.J. Setyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); juga Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3).

Itulah tradisi Yahudi-Kristen dalam soal penyebutan nama Tuhan. Sayangnya, oleh sebagian kaum Muslim atau orientalis Barat, tradisi Yahudi dan Kristen ini kemudian dibawa ke dalam Islam. Pada berbagai terjemahan al-Quran dalam bahasa Inggris, kita menemukan tindakan yang tidak tepat, yaitu menerjemahkan semua lafaz Allah dalam al-Quran menjadi "God".

Dalam konsep Islam, Allah adalah nama diri (ismul 'alam/proper name)dari Dzat Yang Maha Kuasa. Maka, seharusnya, lafaz "Allah" dalam al-Quran tidak diterjemahkan ke dalam sebutan lain, baik diterjemahkan dengan "Tuhan", "God", atau "Lord".

Beberapa terjemahan al-Quran bahasa Inggris telah menerjemahkan lafaz Allah menjadi God. Misalnya, Abdullah Yusuf Ali – dalam The Holy Qur'an -- menerjemahkan "Bismillah" dengan "In the name of God". Begitu juga, "Alhamdulillah" diterjemahkan dengan "Praise be to God", dan "Qul Huwallahu ahad" diterjemahkan dengan "Say: He is God, the One and Only".

Kasus yang sama – penerjemahan nama Allah menjadi God – juga bisa dilihat dalam Terjemah al-Quran bahasa Inggris yang dilakukan oleh J.M. Rodwell (terbitan J.M. Dent Orion Publishing Group, London, 2002. Terbit pertama oleh Everyman tahun 1909).

Harusnya, kata Allah dalam al-Quran tidak diterjemahkan, karena "Allah" adalah nama. Seperti halnya kita tidak boleh menerjemahkan kata "President Bush" dengan "Presiden semak", atau nama Menlu AS "Rice" dengan "Menteri Nasi".

Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, sesuai dengan konsep Pandangan Hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysic of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).

Bait pertama dalam Aqidah Thahawiyah yang ditulis oleh Abu Ja'far ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Syaibani, menyatakan: "Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu." Dalam Kitab Aqidatul Awam – yang biasa diajarkan di madrasah-madrasah Ibtidaiyah -- ditulis bait pertama kitab ini: "Abda'u bismillaahi wa-arrahmaani—wa bi-arahiimi daa'imil ihsani." Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi "Bismillahirrahmaanirrahiimi", dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam al-Quran. Dengan adanya ilmul qiraat yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan.

Umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini.

Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS 112). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah" -- Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini tidak boleh diterjemahkan dengan "Tidak ada tuhan kecuali Tuhan dan Yang Terpuji adalah utusan Allah".

Kaum Muslim di seluruh dunia – dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda – juga menyebut dan mengucapkan nama Allah dengan cara yang sama. Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep 'Tuhan'.

Karen Armstrong menulis dalam bukunya:
"al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan." (Karen Armstrong, Sejarah Tuhan (Terj), 2001), hal. 199-200).

Bagi kaum Pluralis Agama, siapa pun nama Tuhan tidak menjadi masalah, karena biasanya mereka memandang, agama adalah bagian dari ekspresi budaya manusia yang sifatnya relatif. Karena itu, tidak manjadi masalah, apakah Tuhan disebut Allah, God, Lord, Yahweh, dan sebagainya. Mereka juga mengatakan, bahwa semua ritual dalam agama adalah menuju Tuhan yang satu, siapa pun nama-Nya. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan, bahwa:
"... setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama." (Lihat, buku Tiga Agama Satu Tuhan, (1999), hal. xix).

Seorang Pluralis pendatang baru, juga menulis dalam buku terbarunya, "Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, kembalinya kepada Allah."

Pandangan yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah, adalah pandangan yang keliru. Hingga kini, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, di kalangan Kristen saja, muncul perdebatan sengit tentang penggunaan lafal "Allah" sebagai nama Tuhan. Sebagaimana kaum Yahudi, kaum Kristen sekarang juga tidak memiliki 'nama Tuhan' secara khusus. Kaum Hindu, Budha, dan pemeluk agama-agama lain juga tidak mau menggunakan lafaz "Allah" sebagai nama Tuhan mereka.

Kaum musyrik dan Kristen Arab memang menyebut nama Tuhan mereka dengan "Allah" sama dengan orang Islam. Nama itu juga kemudian digunakan oleh al-Quran. (Al-Quran memang menyebutkan, jika kaum musyrik Arab ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menyebut "Allah". (Lihat QS 29:61, 43:87).

Tetapi, perlu dicatat, bahwa al-Quran menggunakan kata yang sama namun dengan konsep yang berbeda. Bagi kaum musyrik Arab, Allah adalah salah satu dari Tuhan mereka, disamping tuhan Lata, Uza, Hubal, dan sebagainya. Karen Armstrong menyebut, ketika Islam datang, 'Allah' dianggap sebagai 'Tuhan Tertinggi dala keyakinan Arab kuno'. (Lihat, Karen Armstrong, op cit, hal. 190).

Karena itu, dalam pandangan Islam, mereka melakukan tindakan syirik terhadap Allah. Sama dengan kaum Kristen, yang dalam pandangan Islam, juga telah melakukan tindakan syirik dengan mengangkat Nabi Isa sebagai Tuhan. Karena itulah, Nabi Muhammad saw – sesuai dengan ketentuan QS al-Kafirun – menolak ajakan kaum musyrik Quraisy untuk melakukan penyembahan kepada Tuhan masing-masing secara bergantian.

Jadi, tidak bisa dikatakan, bahwa orang Islam menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kafir Quraisy. Jika menyembah Tuhan yang sama, tentulah Nabi Muhammad saw akan memenuhi ajakan kafir Quraisy.

"Katakan, hai orang-orang kafir!
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku." (QS 109).

QS al-Kafirun ini menjadi dalil bahwa karena konsep Tuhan yang berbeda – meskipun namanya sama, yaitu Allah - dan cara beribadah yang tidak sama pula, maka tidak bisa dikatakan bahwa kaum Muslim dan kaum kafir Quraisy menyambah Tuhan yang sama. Itu juga menunjukkan, bahwa konsep Tuhan kaum Quraisy dipandang salah oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga cara (jalan) penyembahan kepada Allah. Karena itulah, nabi Muhammad dilarang mengikuti ajakan kaum kafir Quraisy untuk secara bergantian menyembah Tuhan masing-masing.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau menserikatkan Allah dengan yang lain, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang mengaku Pluralis Agama.
Wallahu a'lam.
Sumber:
 

Tuesday, 24 May 2011

MENILIK DISKURSUS KETUHANAN BARAT

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa[1]


Pendahuluan
Perbincangan mengenai Tuhan merupakan diskusi yang usianya seumur keberadaan manusia. Diduga kuat pada diri manusia memang memiliki bakat ber-Tuhan dan potensi untuk beragama (sensus religious).[2] Dengan adanya “sensus religious” yang mengindikasikan manusia tetap butuh terhadap Tuhan, maka mengetahui Tuhan dengan benar menjadi sebuah keniscayaan (necessity).
Di dunia Barat sendiri yang mayoritas Kristen, setelah masa pencerahan yang ditandai dengan bangkitnya rasionalisme dan empirisme, bermunculan para pendobrak “Tuhan” yang puncaknya sampai pada pengumuman kematian Tuhan oleh Friedrich Nietzsche (1844).[3] Terlepas dari pernyataan bahwa Tuhan telah mati, yang jelas diskusi tentang Tuhan itu sendiri menjadi menarik dan penting. Letak penting dan menariknya bukan saja kerena sosok-Nya yang abstrak, tetapi secara faktual pemahaman tentang pemikiran Tuhan bagi peradaban manusia adalah lahirnya berbagai macam implikasi sosial dalam kehidupan dan pada akhirnya pemikiran dan pemahaman tersebut, sedikit banyaknya ikut andil dan berimplikasi dalam proses pengambilan kebijakan serta keputusan.
Di Yunani, sebelum munculnya para filosof, tradisi ketuhanan mereka menggambarkan adanya dewa-dewa yang memerintah alam, dan yang terpenting darinya adalah dewa keteraturan atau Zeus. Zeus digambarkan sebagai dewa yang Mahakuasa. Zeus memiliki anak-anak yang juga menjadi dewa-dewa, tetapi tidak kekal. Dia bukan pencipta alam dan sangat mengikuti kemauannya sendiri dalam menghadapi manusia.[4]
Kepercayaan terhadap dewa-dewa di atas umumnya digambarkan dalam bentuk cerita yang bersifat mitos dan tidak memuaskan kalangan ahli pikir (filosof). Oleh karenanya dengan berdasar atas kemampuan akal dan kecermatan membaca alam, maka para filosof berusaha menemukan Tuhan, yang lepas dari khayalan, menuju pada suatu logika berpikir yang sistematis. Dalam makalah ini akan dibahas secara singkat mengenai diskursus ketuhanan yang muncul di Barat, di mulai dari Yunani sampai abad
Tradisi Ketuhanan
Menurut Rudolf Otto seperti yang dikutip oleh Karen Armstrong, menyebutkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat perasaan keyakinan terhadap adanya kekuatan yang lebih besar dan tinggi.[5] Kekuatan ini melampaui apa yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Karena kekuatan semacam ini di luar batas kemanusiaan, maka kekuatan tersebut menjadi sesuatu yang diagungkan bahkan dijadikan sesembahan.
Tradisi ketuhanan sendiri sebenarnya sudah dimulai pertama kali oleh orang Mesir. Menurut Muhammad Abu Zahrah, umat yang pertama kali percaya akan adanya Tuhan adalah Mesir. Ketika itu orang-orang Mesir memiliki Tuhan yang tidak tetap. Tuhan mereka berpindah-pindah dan berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Di setiap kota terdapat Tuhan, oleh karena itu Tuhan yang mereka sembah disebut Tuhan yang berada pada suatu tempat (Alihah Mahalliyyah). [6] Dan jika dilihat dari sisi historis, tradisi ketuhanan orang Mesir ini sudah berlangsung jauh sebelum tahun 4000 SM.[7]
Term Tuhan
Istilah Tuhan dikenal dalam berbagai macam bahasa. Diantaranya bahasa Samiyah yakni Ibri disebut (Eloh), Asywari (Ilu), Kaldani (Elah), itu semua berarti wajib adanya (wajibul wujud). Dalam Ariya yakni Sansekerta disebut (Deva), latin (Divus atau Dues), Yunani (Theos), Almania (Zott), Inggris (God), Italia (Iddio), Perancis (Dieu).[8]
Menurut Muhammad As-Sayyid Al-Julainid, Tuhan adalah sesuatu yang disembah kepada-Nya, tempat cinta, tempat kembali dan kemuliaan. Tuhan adalah yang mendidik hamba-Nya, menganugerahkan apa yang telah diciptakan-Nya kepada hambanya tersebut, dan memberi petunjuk dalam segala aspek baik itu yang bersifat ritual ibadah maupun yang bukan.[9]
Sedangkan menurut Alvin Plantinga & Michael Tooley, Tuhan adalah satu individu, tapi tidak seperti individu manusia karena Tuhan merupakan individu tanpa badan (God is a person without a body).[10]
Barat sendiri merasa kesulitan untuk mendefinisikan apa Tuhan itu. Keimanan Barat hanya berdasarkan kepada keyakinan buta yang harus diterima begitu saja. Ada yang berpedoman kepada Tertulian yang mengatakan "credo quia absurdum", atau "saya percaya karena dogma agama tidak masuk akal".[11]
Dalam bentuk yang lain, orang dituntut untuk mempercayai wahyu yang kemudian menjadi tahu akan apa yang diyakini. Sayangnya, wahyu tersebut tidak bernuansa pengetahuan, tidak epistemologis. Wahyu tidak dapat berirama dengan akal. Sedangkan akal dipaksa untuk mempercayai berbagai hal yang tidak masuk akal dalam wahyu. Pandangan seperti ini diyakini merujuk kepada St Anselmus yang mengatakan “credo ut Inteligam”, atau saya percaya karena saya paham.[12]
Eksistensi Tuhan
Tidak semua filosof Barat mengingkari akan eksistensi Tuhan. Hal itu disebabkan karena sisi historis dan sudut pandang yang mereka gunakan berbeda dalam melihat eksistensi Tuhan. Tulisan ini tidak sepenuhnya membahas tentang pandangan para filosof Barat akan eksistensi Tuhan. Tetapi tulisan ini akan melihat sebatas pandangan umum sebagai perwakilan filosof dari pengklasifikasian filsafat barat yang terbagi menjadi empat tahap. Yaitu pertama zaman Yunani yang akan diwakili oleh pandangan Aristoteles, zaman pertengahan yang akan diwakili oleh Thomas Aquines, zaman modern yang akan diwakili oleh Rene Descartes dan Immanuel Kant serta zaman postmodern yang akan diwakili oleh Friedrich Nietszche.
Aristoteles merupakan tokoh filosof Yunani yang dikenal sebagai “a monist” (percaya pada satu Tuhan).[13] Dalam pemikirannya, Tuhan dikenal dengan sebutan filsafat pertama ‘first philosophy’ (prōtē philosophia)[14] dan ilmu pertama ‘first science’ (prōtē epistēmē). Istilah falsafah pertama ini merupakan bentuk lain dari istilah yang sering disebut dengan metafisika.[15] Yaitu ilmu tentang wujud sebagaimana adanya (being qua being),[16] dalam artian ilmu yang membahas tentang wujudnya yang wujud atau ilmu yang membahas tentang asal-usul yang wujud. Singkatnya, ilmu ini membahas asas dasar ilmu[17] serta pokok-pokok wujud dan penyebabnya yang secara khusus dikaitkan dengan mengetahui Tuhan sebagai sebab utama (al-‘illat al-ula).[18] Teori ketuhanan Aristoteles ini berangkat dan memulai pandangan metafisikanya dari fisika[19] dan keyakinan bahwa bumi bersifat kekal (azali).
Thomas Aquines[20] sendiri merumuskan lima jalan dalam menunjukkan keberadaan Tuhan yaitu Tuhan sebagai penggerak pertama (prime motor), penyebab pertama (first cause), aktus murni (pure act) yang diasumsikan karena dia bisa bertindak, wajib adanya (necessary being) dimana keberadaan dan inti sarinya hanya satu sebagai bentuk kebalikan dari wujud yang mungkin (contingent being), dan puncak hirarki makhluk (the hierarchy of beings).
Di awal abad modern, muncul Rene Descartes yang terkenal dengan pandangannya bahwa manusia ada karena dia berpikir (cogito ergo sum).[21] Dia merupakan filosof yang membuktikan adanya dunia ini melalui Tuhan. Dunia materiil ini merupakan dunia luar dari ide sempurna (Tuhan).[22] Dengan demikian maka jelas bahwa walaupun Rene Descartes seorang rasionalis, akan tetapi dia masih percaya kepada eksistensi Tuhan.
Beberapa abad berikutnya, eksistensi Tuhanpun tidak luput dari pembicaraan. Salah satu filosof besar di abad tersebut adalah Immanuel Kant. Menurutnya, eksistensi Tuhan tidak dapat dibuktikan secara teoritis melainkan sesuatu yang harus diterima sebagai bukti atau postulat dari budi praktis sebagai idea yang menyangkut kewajiban manusia mentaati hukum moral.[23] Karena kebebasan manusia bertindak adalah berdasarkan alasan moral.[24] Hal yang sama juga disampaikan oleh Michael Tooley. Karena sosok Tuhan yang abstak, dia berkesimpulan bahwa manusia tidak akan dapat menunjukkan eksistensi Tuhan dan hal yang demikian adalah mustahil (the existence of God is unlikely).[25]
Kecenderungan manusia untuk beragama –oleh Barat– dipandang sebagai sesuatu yang sia-sia belaka. Freud memandang orang yang beragama ibarat mengulang masa kecilnya; agama hanyalah ilusi belaka.[26] Karl Marx memandangnya  sebagai orang yang putus harapan karena tidak mampu menghadapi kehidupan; hanya membuat orang mengerjakan sesuatu yang tidak berguna; agama hanyalah candu masyarakat.[27]
Namun berseberangan dengan pernyataan di atas, dalam the dictionary of philosophy dikatakan bahwa setidaknya ada dua fakta yang menunjukkan akan eksistensi Tuhan. Pertama, didasarkan pada fakta pengalaman (facts of experience) yaitu manusia mempunyai keinginan atau kebutuhan untuk kesempurnaan, ketergantungan, cinta dan keselamatan. Kedua, didasarkan pada sejarah religius (facts of religious history) yaitu tentang kesusilaan (morality) yang percaya akan keadilan final (belief in ultimate justice), naluri akan kebaikan yang absolut (instinct for an absolute good), suara hati (conscience), hal mendesak yang bersifat pasti atau mutlak (categorical imperative), kewajiban (sense of duty), dan kebutuhan objek yang menjadi pondasi bagi kesusilaan (need of an objective foundation of morality). Di samping tentang kesusilaan (morality), juga alasan kosmologi, psikis keagaamaan (physico-theological), ideologi dan juga ontologi.[28]
Dalam memahami sifat alami Tuhan sendiri, terdapat pendapat yang bervariasi yang ditandai oleh konsepsi tentang atribut Tuhan baik yang mengatakan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang bukan pribadi (a non-personal/pantheistic) dan Tuhan sebagai sesuatu yang pribadi (personal/theistic) yang diperoleh dari pengalaman yang diangkat ke suatu tingkat superlative maha tahu (omniscient) dan abadi (eternal). Walaupun kenyataannya, Tuhan mungkin dipahami sebagai kemutlakan yang relatif dalam nilai-nilai manusia sebagai makhluk yang dualitas dan pluralitas.[29]
Konsep Tuhan sendiri tidak dapat dilepaskan dari keyakinan (faith), percaya terhadap keajaiban-keajaiban (belief in miracles), dan peribadahan atau menggambarkan dan mendeskripsikan bentuk Tuhan, biografinya dan juga ciptaannya yang lebih bersifat teologi daripada secara metafisis (filsafat). Karena para filosof secara keseluruhan lebih menggunakan gagasan ketuhanan atau padanan ilmu bahasanya di dalam bahasa lain, di samping karena kepopulerannya ataupun karena pengaruh gereja. Walaupun demikian, menurut Schoolmen, filsafat dapat menunjukkan keberadaan Tuhan, meskipun inti dari argumentasinya berdasarkan analogi.[30]
Penutup
Dari pemaparan singkat di atas maka dapat diketahui bahwa beragam pemikiran di Barat mengenai ketuhanan disebabkan karena sisi historis dan sudut pandang yang mereka gunakan berbeda dalam melihat eksistensi Tuhan. Karena sudut pandang yang berbeda, maka tentunya kesimpulan yang dihasilkannya-pun menjadi berbeda. Namun yang jelas permasalahan ketuhanan merupakan permasalahan besar yang muncul sejak manusia mulai menggunakan nalar berfikirnya secara mendalam. Dikatakan permasalahan besar dikarenakan banyak dari kalangan filosof dan teolog yang memiliki perhatian dan perbedaan pandangan secara signifikan. Di samping itu pemikiran ketuhanan ini juga nantinya berpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran yang lain.


[1] Makalah ini disampaikan pada kajian Dept. Keilmuan & Kerohanian 2010 ISID Gontor
[2] Joachim Wach, The Comparative Study Of Religion (New York: Columbia University Press, 1958), hal. 39.
[3] Walter E Stuerman. The Human Prospect When God is Dead dalam Donald E Hartsock (ed), Contemporary Religious Issues (Los Angeles: University of California, Wadsworth Publishing, 1968), p: 186. Gilles Deleuze, Filsafat Nietzche  (Yogyakarta: Ikon, 2002), p: 214-215. Karena manusia yang ideal adalah manusia atas, maka pemikiran inilah yang mendorong Nietzsche pada keyakinan bahwa Tuhan (Allah) telah mati. Hanya manusia ataslah yang masih hidup. Dunia ini masih berarti karena “manusia atas”. Maka orang harus setia pada dunia ini, dan tidak perlu percaya akan adanya harapan-harapan yang mengatasi dunia. Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 375. Lihat juga Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hal. 129.
[4] Harold A Titus, dkk., “Living Issues In Philosophy,” dalam H. M. Rasyidi, Persoalan-persoalan Filsafat (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), hal. 447
[5] Karen Amstrong, A History of God (New York : Alfred A Knoof, 1993), hal. 5
[6] Muhammad Abu Zahrah, Muhadharat Fi Muqaranat Al-Adyan: Ad-Diyanaat Al-Qadimah (Darul Fikri Al-Arabi: 1965), hal. 5-7.
[7] Jefry Bernard, Imam Abdul Fattah Imam (terj.), Al-Mu’taqadaat Ad-Diniyyah Liday Asy-Syu’ub (Kuwait: ‘Alamu Al-Ma’rifah, 1993), hal. 34
[8] Louis Masignon, Muhadharat Fi Tarikh Al-Ishthilahat Al-Falsafiyyah Al-‘Arabiyyah (Kairo: Al-Ma’had Al-‘Ilmi Al-Faransi Lil’Atsar Ay-Syarqiyyah, tanpa tahun), hal. 137.
[9] Muhammad As-Sayyid Al-Julainid, Qadiyyatul Uluhiyyah Baina Ad-Din Wal Falsafah (Kairo: Daru Qobail Mathba’ah Wan-Nasyr Wat-Tauzi’, 2001), hal. 256
[10] Alvin Plantinga & Michael Tooley, Knowledge Of God ( USA: Blackwell Publishing, 2008), p. 2
[11] Karl Marx, Friedrich Engels. 1957.  On Religion. Foreign languages publishing house. Moscow. Hal 24.
[12] Seyyed Hossein Nasr. 1981. Knowledge and The Sacred: The Gifford Lectures. Edinburgh University Press. Hal: 36
[13] S. E. Frost, JR., Ibid., p. 106
[14]  Disebut juga dengan prima filosofia, metaphysic dan ketuhanan. Al-falsafah al-ula merupakan istilah yang digunakan oleh Aristoteles dalam studi tentang ultimate existensces (al-maujudat al-azaliyyah) yang berbeda-beda. Lihat Ibrahim Madkur, al-Mu’jam al-Falsafi (Kairo: al-Hai’ah al-‘Amah Lisyuuni al-Mathabi’ al-Amiriyah, 1983), p. 139
[15] Vasilis Politis, Aristotle and the Metaphysics (London And New York: Routledge, 2004), p. 2
[16] Aristoteles, Methaphysics, Translated by Richard Hope (The University Of Michigan Press, 19694), 1003a21-22
[17] Vasilis Politis, Ibid., p.3
[18] Muhammad Abdurrahman Marhaban, Mina Al-Falsafah Yunaniyyah Ila Al-Falsafah Al-Islamiyyah (Beirut: ‘Uwaidat Li An-Nayr Wa Ath-Thiba’ah, t.t), p. 187
[19] Hamid Fahmy Zarkasy, The Nature Of God In Aristotle’s Natural Theology (ISID Gontor: Jurnal Tsaqafah, Vol. 4, Nomor 1, 1428 H), hal. 39
[20] Thomas Aquines lahir sekitar tahun 1225 M di Naples. Dia adalah seorang empiris. Akan tetapi menurutnya pengetahuan manusia tidak hanya terbatas pada pengalaman indra. Dia percaya pada satu arti ide, karena jiwa merupakan bentuk dari tubuh, bahwa fungsi intelek manusia bergantung pada pengalaman indera. Sedangkan pandangannya dalam ketuhanan, dia beranggapan bahwa manusia dapat membuktikan eksistensi Tuhan. Untuk lebih jelasnya lihat dalam buku John K. Roth, Persoalan-Persoalan filsafat agama; Kajian Pemikiran 9 Tokoh Dalam Sejarah Filsafat Dan Teologi, terj. Ali Noer Zaman ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), p. 120
[21] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, cet. Ke-4), p. 141-142. Setelah membuktikan eksistensi manusia, dia membuktikan eksistensi Tuhan dan eksistensi benda-benda materiil. Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), p. 126
[22] M. Hollis, The Light Of Reason, Rationalist Philosopher Of The 17th Century (Oxford: Oxford University, 1973), p. 142
[23] HB. Acton, Kant’s Moral Philosophy (London: MacMillan, 1970), p. 66
[24] Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia (Bandung: Remanja Rosdakarya, 2008, cet.ke-3)
[25] Lihat Michael Tooley, Does God Exist? dalam Alvin Plantinga & Michael Tooley, Knowledge Of God ( USA: Blackwell Publishing, 2008), hal. 70
[26]. Freud memandang sikap keagamaan sebagai refleksi mental yang sakit. Bandingkan dengan: Daniel L Pals. 1996. Seven Theories of Religion. Oxford University Press. New York. p. 66.
[27] Dom Aelred Graham. 1971. The End of Religion. Harcourt Brace Jovanovich. New york & Lodon. Hal: 17
[28] D. Runes, The Dictionary Of Philosophy (New York: Philosophical Library), p. 118
[29] D. Runes, Ibid., p. 118
[30] D. Runes, Ibid., p. 118

“BOLA” Bukan Untuk Diper-“TUHAN”-kan

Kecintaan terhadap permainan sepak bola makin hari makin mewabah dan begitu digandrungi oleh jutaan umat manusia seantero dunia. Apalagi pada tahun ini berlangsung perhelatan akbar piala dunia yang diselenggarakan di Afrika Selatan selama satu bulan penuh (11 Juni - 11 Juli 2010). Demam piala dunia ini boleh diakui semakin mewabah para pencinta bola. Dimana-mana hampir orang dengan berbagai macam latar belakangnya masing-masing ikut membicarakan sepak bola. Berbagai macam dukungan terlihat bukan hanya di negara yang mengirimkan para pemainnya, namun juga hampir seluruh negara mengumandangkan dukungannya terhadap tim kesayangan yang bukan dari negaranya sendiri.
Bahkan banyak dari penggila sepak bola yang merelakan dirinya untuk begadang sampai pagi. Hal ini tidak lain bertujuan agar mereka tidak melewatkan aksi para pemain dan tim favoritnya berlaga di lapangan hijau. Komunitas ini sepertinya tidak menghiraukan kapan waktu tayang pertandingan, yang terpenting bagi mereka adalah tidak melewatkan tim kesayangan mereka beraksi di lapangan. Bahkan ada di antara mereka sampai mengubah pola hidup, misalnya dari yang tadinya tidak terbiasa minum kopi lalu minum kopi agar bisa menyaksikan pertandingan yang berlangsung selama 90 menit itu.
Lebih parah lagi ada segolongan komunitas yang mereka memiliki kegemaran judi bola, mereka akan memanfaatkan moment seperti ini untuk bertaruh, dari mulai jumlah yang terkecil hingga terbesar, dari sistem manual hingga online. Datangnya piala dunia ini juga kadang dijadikan sebagai “kambing hitam” menurunnya produktifitas kerja maupun aktivitas lainnya dengan alasan begadang karena nonton bola. Kesehatan juga menurun dan hubungan pertemananpun terkadang menjadi terganggu gara-gara berbeda tim jagoan atau selisih pendapat dalam menganalisa kejadian pertandingan.
Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya moment piala dunia dan kecintaan kepada bola ini tidak melampaui batas kewajaran. Dalam artian moment seperti ini tidak mengurangi nilai ibadah maupun kualitas iman terhadap Allah SWT. Karena tidak sedikit dari para pecinta bola yang merelakan waktu ibadahnya terbuang disebabkan moment ini. Mereka melalaikan shalat sunnah malam bahkan ada sebagian dari mereka yang meninggalkan shalat fardhu ‘shubuh’ disebabkan menyaksikan pertandingan sepak bola.
Hal ini mengindikasikan bahwa sepak bola dianggap lebih prioritas dibandingkan perintah agama. Secara langsung maupun tidak langsung, mereka telah menganggap bahwa perintah Tuhan masih kalah penting dengan pertandingan sepak bola. Akhirnya Tuhan-pun di nomor duakan. Sepak bola yang semestinya dijadikan sebagai hiburan kini sudah dimaknai lain.
Dari sini maka terlihat bahwa sepak bola sudah di-tuhan-kan. Karena istilah “Tuhan” (al-ilah) sendiri dalam Al-Qur’an tidak hanya bersifat sesuatu yang abstrak saja tetapi juga segala bentuk apapun yang sifatnya diagungkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Jasyiyah/45 ayat 23 dan surat Al-Furqon/25 ayat 43: "Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilah-kan keinginan-keinginan pribadi mereka .?"
Ayat Al-Qur’an tersebut mengindikasikan bahwa Tuhan (al-ilah) adalah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominasi) olehnya. Perkataan "dipentingkan" hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Dan sepak bola sudah masuk dalam wilayah “dipentingkan” tersebut.
Berkesesuaian dengan ayat tersebut, syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri memberikan definisi Tuhan (al-ilah) sebagai berikut: Al-ilah ialah yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo'a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya (dalam bukunya Dr. Yusuf Qardawi, Haqiqat Al-Tauhid). Berdasarkan definisi ini dapatlah difahami, bahwa Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Dan salah satu bentuk Tuhan modern sekarang ini adalah sepak bola.
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa jika demikian maka posisi Tuhan telah tergeserkan bahkan bisa dikatakan tersingkirkan oleh si kulit bundar. Anggapan Tuhan yang bersifat kekal dan tak terbatas oleh ruang dan waktu kini telah hilang. Tuhan dalam manusia modern saat ini hanya dipandang apabila Tuhan bisa secara konkrit mewujud dalam pandangan kasat mata manusia. Tuhan yang merealita dan menawarkan kesenangan melimpah. Tuhan yang bisa membuat mulut tertawa gembira, tangan bertepuk kencang dan mata terpesona menatap riang. Dan sepertinya sepak bola telah memenuhi semua kriteria ini.
Karena permainan bola, banyak diantara manusia mengesampingkan agamanya. Piala dunia sebagai ajang kompetisi sepak bola dunia telah membuat segolongan manusia mengesampingkan agama yang dianutnya. Bola seakan menjadi segalanya. Sebagian para penggila bola rela meninggalkan kewajiban agama demi dan karena-nya. Bola telah menjadi Tuhan, dipuja, disembah melebihi Tuhan yang sebenarnya. Bola kini bukan lagi sebagai hiburan penghilang kepenatan setelah beraktivitas seharian namun lebih dari itu.
Sungguh amat “wajar” jika sepak bola dijadikan sebagai hiburan, namun sangat “kurang ajar” jika sepak bola kemudian menjadi sesembahan yang dipertuhankan. Bola hanyalah salah satu wujud kreativitas manusia. Oleh karenanya posisi bola seharusnya diletakkan sebagaimana mestinya. Jangan kemudian diprioritaskan melebihi Tuhan atau semisal dengan-Nya. Karena Tuhan sebagaimana yang dipahami secara umum dan dijelaskan dalam berbagai macam kamus -seperti kamus al-Muhith- Tuhan berarti sesuatu yang disembah (ma’luh) atau dalam “Dictionary of Religion” Tuhan berarti yang bersifat suci (the Holy) dan sakral (the Sacred), oleh karenanya tidaklah sesuai jika posisi Tuhan kemudian disejajarkan dan digantikan dengan term “bola/sepak bola” yang merupakan bentuk ciptaan dan kreativitas manusia. Wallahu a’lam bish-shawwab.