Showing posts with label Filsafat Islam. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Islam. Show all posts

Thursday, 11 October 2012

BIOGRAFI IBNU MASKAWAIH

Riwayat Hidup Maskawaih
Maskawaih adalah seorang filsuf muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarahwan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia dan India, di samping filsafat Yunani sangat luas.
            Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang beragama Majusi (Persia) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syiah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran Syiah. Gelar lain juga sering disebutkan, yaitu Al-Khazim, yang berarti bendaharawan disebabkan pada masa kekuasaan Adhud Al-Daulah dari Bani Buwaih ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya.
            Maskawaih dilahirkan di Ray (sekarang Teheran). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkannya berbeda-beda. M.M Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Margoliouth menyebutkan tahun 330 H/932 M. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H sedang wafatnya (semua sepakat) pada 9 Shafar 421 H/16 Februari 1030 M.
            Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaih yang beraliran Syiah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaih yang mulai berpengaruh sejak khalifah Al-Mustkfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai Pedana Menteri (Amir Al-Umara’) dengan gelar Mu’izz Al-Daulah pada 945 M. Ayahnya, Abu Syuja’ Buwaih, adalah pemimpin suku yang amat gemar berperang, dan kebanyakan pengikutnya berasal dari daerah Pegunungan Dailan di Persia, di Pegunungan pantai selatan Laut Waswain yang merupakan pendukung keluarga Saman. Tiga anak Buwaih, diantaranya Ahmad bin Buwaih, mengadakan ekspansi ke daerah selatan, hingga berhasil menduduki Asfahan, kemudian Syiraz dan daerah sekitarnya pada tahun 934 M. Dua tahun berikutnya dia berhasil menaklukka Khuziztan (dulu Akhwaz dan Karman). Kemudian Syirazlah yang dipilih menjadi ibukota kekuasaan mereka. Pada tahun 1945 M, Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap Bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan Khalifah-Khalifah Bani Abbas.
            Puncak prestasi atau zaman keemasan kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud Al-Daulah yang berkuasa dari tahun 367-372 H. ‘Adhud Al-Daulah adalah penguasa Islam yang pertama kali menggunakan gelar Syahinzah yang berarti maharaja, gelar yang dipergunakan raja-raja Persia Kuno. Kecuali prestasinya dalam bidang politik yang luar biasa, yang telah berhasil menyatukan kembali negara-negara kecil yang telah memisahkan diri dari pemerintahan pusat hingga menjadi imperium besar sebagaimana yang dialami pada masa Harun Ar-Rasyid, ‘Adhud Al-Daulah amat besar juga perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud Al-Daulah, dan pada masa ini jugalah Maskawaih muncul sebagai seorang filosuf, tabib, ilmuwan dan pujangga. Tetapi di samping itu, ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitik beratkan perhatiannya pada bidang etika Islam.
Riwayat Pendidikan Maskawaih
            Riwayat pendidikan Maskawaih tidak diketahui dengan jelas. Maskawaih tidak menulis autobiografinya, dan para penulis riwayatnya pun tidak memberikan informasi yang jelas mengenai latar belakang pendidikannya. Namun demikian dapat diduga bahwa Maskawaih tidak berbeda dari kebiasaan anan menuntut ilmu pada masanya. Ahmad Amin memberikan gambaran pendidikan anak pada zaman Abbasiyah bahwa pada umumnya anak-anak bermula dengan belajar membaca, menulis, mempelajari Al-Qur’an dasar-dasar bahasa arab, tata bahasa arab (nahwu) dan ‘arudh (ilmu membaca dan membuat syair). Mata pelajaran-pelajaran dasar tersebut diberikan di surau-surau; dikalangan keluarga yang berada dimana guru didatangkan ke rumahnya untuk memberikan les privat kepada anak-anaknya. Setelah ilmu-ilmu dasar itu diselesaikan, kemudian anak-anak diberi pelajaran ilmu fiqh, hadist, sejarah (khususnya sejarah Arab, Parsi dan India) dan matematika. Kecuali itu diberikan pula macam-macam ilmu praktis, seperti: music, bermain catur dan furusiah (semacam ilmu kemiliteran).
            Diduga Maskawaih pun mengalami pendidikan semacam itu pada masa mudanya, meskipun menurut dugaan juga Maskawaih tidak mengikuti pelajaran privat, karena ekonomi keluarganya yang tidak mampu mendatangkan guru, terutama untuk pelajaran-pelajaran lanjutan yang biayanya mahal. Perkembangan ilmu Maskawaih terutama sekali diperoleh dengan jalan banyak membaca buku, terutama disaat memperoleh kepercayaan menguasai perpustakaan Ibny Al-‘Amid, menteri Rukn Al-Daulah, juga akhirnya memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawaan ‘Adhud Al-Daulah.
            Pengetahuan Maskawaih yang amat menonjol dari hasil membaca buku ialah tentang sejarah, filsafat dan sastra. Hingga saat ini Maskawaih dikenal terutama sekali dalam keahliaannya sebagai sejarahwan dan filosuf. Sebagai filosuf, Maskawaih memperoleh sebutan Bapak Etika Islam, karena Maskawaihlah yang mula-mula mengemukakan teori etika dan sekaligus menulis buku tentang etika.
            Adapun karya-karya Maskawaih yang dapat terekam oleh para penulis (sejarahwan) diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Kitab Al-Fauz Al-Asghar tentang Ketuhanan, jiwa dan kenabian (metafisika).
2.      Kitab Al-Fauz Al-Akbar, tentang etika.
3.      Kitab Thabarat An-Nafs, tentang etika.
4.      Kitab Tahdzib Al-Akhlak wa Thathhir Al-‘Araq, tentang etika.
5.      Kitab Tartib As-Sa’adat, tentang etika dan politik terutama mengenai pemerintah Bani ‘Abbas dan Banu Buwaih.
6.      Kitab Tajarib Al-Umam, tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejarah sejak setelah air bah Nabi Nuh hingga tahun 369 H.
7.      Kitab Al-Jami’ tentang ketabiban.
8.      Kitab Al-Adwiyah tentang obat-obatan.
9.      Kitab Al-Asyribah tentang minuman.
10.  Lotab Al-Mustaudi, berisi kumpulan-kumpulan syair pilihan.
11.  Kitan Maqalay fi Al-Nafsi wa Al-Aql tentang jiwa dan akal.
12.  Kitab Jawizan Khard (akal abadi), yang membicarakan panjang lebar tentang pemerintahan dan hokum yang berlaku di Arab, Persia, India dan Romawi.
Sebenarnya masih banyak karya-karya dari Maskawaih yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dasar-dasar Etika Maskawaih
            Sebagai bapak etika islam, maskawaih dikenal juga sebagai guru yang ketiga (المعلم الثالث), setelah Al-Farabi yang digelari guru kedua (المعلم الثاني), sedangkan yang dipandang sebagai guru yang pertama (المعلم الأول) adalah Aristoteles. Teorinya tentang etika secara rinci ditulis dalam kitab Tahdzib Al-Akhlak wa Thathhir Al-‘Araq (pendidikan budi dan pembersihan watak).
            Maskawaih membagi kitabnya itu menjadi tujuh bagian. Bagian pertama membicarakan perihal jiwa yang merupakan dasar pembahasan akhlak. Bagian kedua membicarakan manusia dalam hubungannya dengan akhlak. Bagian ketiga membicarakan perihal kebajikan dan kebahagiaan yang merupakan inti pembahasan tentang akhlak. Bagian keempat membicarakan perihal keadilan. Bagian kelima membicarakan perihal cinta dan persahabatan. Bagian keenam dan ketujuh membicarakan perihal pengobatan penyakit-penyakit jiwa.
            Sesuai dengan pembagaian kitab Tahdzib menjadi tujuh bagian, kita dapat melihat bahwa tiap-tiap bagian tidak hanya berbicara tentang suatu topic khusus, melainkan banyak hal lain juga yang dibicarakan dalam satu bagian bahkan suatu masalah dibicarakan secara berulang–ulang dalam bagian-bagian lain. Misalnya dalam bagian pertama yang membicarakan masalah jiwa, tidak secara tuntas masalahnya diselesaikan. Perihal kekuatan jiwa dibicarakan dalam bagian kedua. Dalam bagian ketiga dibicarakan juga keabadiaan jiwa menurut Aristoteles.
1.      Unsur-Unsur Etika Maskawaih
            Teori etika Maskawaih bersumber pada filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam dan pengalaman-pengalaman pribadi. Pengaruh Plato, Aristoteles dan Galen amat jelas dalam teori etika Maskawaih. Usaha Maskawaih adalah mempertemukan ajaran syariat Islam dengan teori-teori etika dalam filsafat, setelah berusaha mempertemukan antara berbagai macam teori etika dan filsafat.
2.      Pengertian Akhlak     
            Kata akhlak adalah dalam bentuk jamak (plural) dari kata khuluq. Menurut Maskawaih khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Dengan kata lain, khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Peri keadaan jiwa itu dapat merupakan fitrah sejak kecil dan dapat pula merupakan hasil latihan membiasakan diri.
3.      Keutamaan (fadhilah)
            Menurut Maskawaih keutamaan-keutamaan jiwa itu ada empat macam, yaitu hikmah (wisdom), ‘Iffah (kesucian), Syaja’ah (keberanian) dan ‘Adalah (keadilah). Menurutnya, kebijaksanaan adalah keutamaan jiwa cerdas. Kesucian adalah keutamaan nafsu syahwat; keutamaan lahir jika manusia dapat menyalurkan syahwatnya sejalan dengan pertimbangan akal yang sehat hingga ia bebas dari perbudakan syahwatnya.
4.      Kebahagiaan (sa’adah)
Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan)  dan as-sa’adah (kebagiaan). Kebaikan menjadi tujuan semua orang dan kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedang kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum, tetapi relative bergantung pada orang perorang. Dengan demikian kebaikan mempunyai identitas tertentu sedangkan kebahagiaan berbeda-beda tergantung kepada orang-orang yang berusaha memperolehnya.
5.      Cinta (mahabbah)
Cinta menurut Maskawaih terbagi menjadi 2 macam yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Cinta yang tinggi nilainya adalah cinta kepada Allah, tetapi cinta tipe ini hanya dapat dicapai oleh sedikit orang.

Tuesday, 24 May 2011

KONSEP TUHAN DALAM PANDANGAN AL-KINDI

Oleh: Alex Nanang Agus Sifa
Pendahuluan
Pembicaraan mengenai Tuhan merupakan diskusi yang usianya seumur keberadaan manusia. Diduga kuat pada diri manusia memang memiliki bakat ber-Tuhan (nominous).[1] Dengan adanya “nominous” yang mengindikasikan manusia tetap butuh terhadap Tuhan, maka mengetahui “Tuhan”[2] dengan benar menjadi sebuah keniscayaan.Di dunia Barat sendiri yang mayoritas Kristen, setelah masa pencerahan yang ditandai dengan bangkitnya rasionalisme dan empirisme, bermunculan para pendobrak “Tuhan” yang puncaknya sampai pada pengumuman kematian “Tuhan” oleh Friedrich Nietzsche.[3]
Terlepas dari anggapan Tuhan telah mati, yang jelas diskusi tentang Tuhan itu sendiri menjadi menarik dan penting. Letak penting dan menariknya bukan saja kerena sosok-Nya yang abstrak,[4] tetapi juga karena pemahaman tentang konsep Tuhan bagi peradaban adalah lahirnya berbagai macam implikasi sosial yang pada akhirnya konsepsi pemahaman tersebut, sedikit banyaknya ikut andil dalam proses pengambilan kebijakan dan keputusan.
Banyak diantara kalangan baik cendekiawan maupun penulis buku filsafat Islam mengatakan bahwa Al-Kindi adalah filosof muslim pertama. Hal itu mungkin dikarenakan dialah muslim yang pertama kali menerjemahkan pemikiran Yunani ke dalam bahasa Arab dan mensinkronisasikan antara agama dan filsafat. Jika memang demikian apakah dapat dikatakan jika pemikiran Al-Kindi-khususnya pemikirannya tentang Tuhan- banyak dipengaruhi oleh pemikiran Yunani? Oleh karenanya perlu dikaji ulang agar nantinya duduk persoalannya menjadi jelas. Makalah yang sederhana ini akan berusaha menjawab pertanyaan tersebut di atas dan membahas pemikiran Al-Kindi tentang Tuhan. 
Sekilas Riwayat Hidup Al-Kindi
Nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin al-Shabbah bin Imran bin Mubin al-Asy'ats bin Qais al-Kindi.[5] Dia dilahirkan di Kufah, akan tetapi tahun kelahirannya tidak bisa dipastikan. diperkirakan dia lahir sekitar 180 dan 185 H (796/801 M) dari keluarga berada dan terpelajar. Kakek buyutnya yang bernama al-Asy'ats bin Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa'ad bin Abi Waqash dalam sebuah peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya, Ishaq bin al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan al-Mahdi (775-785 M) dan al-Rasyid (786-809 M).[6]
Al-Kindi memulai perjalanan intelektualnya dari tanah kelahirannya sendiri yaitu Kufah, kemudian melanjutkan pendidikannya ke kota Bashrah, yang pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan tempat utama gerakan pemikiran dan filsafat. Di Bashrah ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, matematika dan filsafat. Tetapi tampaknya dia begitu tertarik kepada filsafat dan ilmu pengetahuan, sehingga setelah ia pindah ke Baghdad, dia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, astronomi, ilmu mantiq, seni musik hingga filsafat. Di samping menerjemahkan buku-buku yang berasal dari Yunani, dia juga memberi komentar terhadap pemikiran mereka.[7]
Corak dan bentuk filsafat Al-Kindi tidak banyak diketahui karena buku-bukunya tentang filsafat banyak yang hilang. Baru pada zaman belakangan, para peminat filsafat menemukan kurang lebih 20 risalah al-Kindi dalam tulisan tangan. Menurut Ibnu Nadim dan Al-Qafthi menyebutkan 238 risalah (karangan pendek), sedangkan sha'id Al-Andalusi menyebutkan 50 buah.[8] Mereka yang berminat besar menelaah filsafat Islam, baik kaum orientalis barat maupun orang-orang Arab sendiri, telah menerbitkan risalah-risalah tersebut. Dengan demikian, orang mudah menemukan kejelasan mengenai posisi dan paham al-Kindi dalam filsafatnya.
Filsafat Al-Kindi
Sebelum Al-Kindi membahas tentang Tuhan, dia mengawali dengan pandangannya tentang urgensinya filsafat. Filsafat menurut Al-Kindi adalah ilmu tentang  kebenaran (hakikat) segala sesuatu menurut kesanggupan manusia, yang mencakup ilmu ketuhanan (rububiyyah), ilmu keesaan (wahdaniah), ilmu keutamaan (fadhilah),dan ilmu tentang semua cara meraih maslahat dan menghindar dari madharat. Tujuan seorang filosofis bersifat teorits, yaitu mengetahui kebenaran praktis dan mewujudkan kebenaran tersebut dalam tindakan. Semakin dekat kepada kebenaran maka akan semakin dekat pula pada kesempurnaan.[9]
Menurutnya, filsafat merupakan ilmu yang amat mulia di atas ilmu-ilmu yang lain. Dan kemulian yang tertinggi dari berbagai macam cabang filsafat adalah filsafat pertama, yaitu ilmu kebenaran pertama yang menjadi penyebab setiap kebenaran (‘ilmu al-haq al-awwal alladzi huwa ‘illatu kulli haq).[10]
Dalam bukunya Ahmad Hanafi dikemukakan bahwa definisi filsafat yang dikemukakan oleh Al-Kindi terdapat unsur-unsur pemikiran Plato dan Aristoteles.[11] Dalam hal ini Al-Kindi berpandangan bahwa dalam menilai ukuran kebenaran dan kemuliaannya, seseorang dapat mengambil sumber darimana saja, dengan catatan tidak bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan oleh agama. Dia mengambil i’tibar tentang hikmah ‘aliyah yang merupakan ungkapan sangat terkenal di kalangan arab islam yakni “hikmah adalah perbendaharaan mu’min, maka ambillah dimanapun engkau mendapatkannya" dan ungkapan yang menyatakan “janganlah engkau mengetahui kebenaran dengan melihat pemiliknya, tapi ketahuilah kebenaran maka engkau akan mengetahui pemiliknya”.[12]
Dalam definisinya tentang filsafat dia menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu mengenai sesuatu sekaligus dengan substansinya (ilmu al-asyyai bihaqaaiqiha). Ilmu tersebut mencakup pengetahuan tentang ketuhanan (rububiyyah), keesaan (wahdaniyyah), keutamaan (fadhilah) dan pengetahuan yang memiliki aspek manfaat atau pengetahuan yang telah dibawa oleh para nabi. Untuk itu dalam mencarinya adalah sebuah kewajiban dan barangsiapa yang beranggapan bahwa itu tidak wajib, maka dia harus menunjukkan alasan (dalil).[13]


Metafisika Al-Kindi
            Persoalan metafisika[14] pada hakikatnya merupakan persoalan filsafat yang pembicaraannya  sudah dimulai sejak awal kemunculannya, yaitu pada masa filosof pertama Thales.[15] Para ahli sejarah filsafat menyimpulkan bahwa pembahasan tentang metafisika (ma ba’da ath-thabi’ah) disebut juga dengan pembahasan tentang wujud (mabhats al-wujud) atau disebut filsafat wujudiyyah (existentialism), hal ini dikarenakan metafisika merupakan asas yang menjadi sumber wujud dan tempat kembali yang abadi. Aristoteles menyebutnya sebagai al-falsafah al-ula (ma ba’da ath-thabi’ah)[16] karena pembahasannya mencakup tentang ada dalam dirinya (being as being).[17]Terlepas dari pandangan para filosof Yunani, Al-Kindi memiliki pandangannya sendiri mengenai metafisika (ma ba’da ath-thabi’ah). Dalam pandangannya, dia memulainya dengan mendifinisakan makna alam/fisika (ath-thabi’ah). Menurutnya, alam/fisika merupakan ilmu tentang segala sesuatu yang bergerak (‘ilmu al-asyyai al-mutaharrikah). Dengan demikian maka definisi metafisika adalah sebaliknya yakni ilmu tentang sesuatu yang tidak bergerak (‘ilmu ma la yataharrak).[18]
Walaupun Al-Kindi memulai pembahasan metafisika dengan terlebih dahulu mendefinisikan fisika, akan tetapi pandangannya tentang metafisika tersebut sangat berbeda halnya dengan para filosof Yunani khususnya Aristoteles. Karena Aristoteles berangkat dan memulai pandangan metafisikanya dari fisika[19] dan keyakinan bahwa bumi bersifat kekal (azali), sedangkan Al-Kindi berpandangan dan berkeyakinan bahwa bumi bersifat baru (huduts). Maka dapat disimpulkan, jika pendekatan yang digunakan berbeda, maka sudah dapat dipastikan bahwa hasilnya-pun akan berbeda.
Pembahasan metafisika telah dibicarakan oleh Al-Kindi dalam beberapa risalahnya. Diantara risalah Al-Kindi yang concern dalam hal ini adalah yang berjudul tentang keesaan Tuhan dan berakhirnya benda-benda alam (wahdaniyyatullah wa tanahi jarami al-’alam). Ada tiga aspek yang menjadi pembahasannya, yaitu tentang hakikat Tuhan, wujud Tuhan dan sifat Tuhan.
Hakikat Tuhan
Menurut Al-Kindi, Tuhan adalah kebenaran pertama (Al-Haq Al-Awwal) dan yang benar tunggal (Al-Haq Al-Wahid).[20] Kebenaran tunggal yang menciptakan (Al-Mubdi’) segala macam ciptaan. Dan segala sesuatu tidak lepas dari peranan dan kekuatan-Nya.[21]
Al-Wahid Al-Haq menurut Al-Kindi bukanlah termasuk bagian dari alam (ma’qulat), bukan unsur, bukan genus (al-jins), bukan spesies (an-nau’), bukan differentia (al-fashl)), bukan aksidensi (‘ardh), bukan gerakan (al-harakah), bukan akal (al-‘aql), bukan particular (al-juz’u) dan bukan satu dengan tambahan yang lain tapi Tuhan itu satu adanya, tidak menerima banyak (jamak), dan tidak tersusun. Dan Al-Wahid Al-Haq berarti Esa dalam Dzat dan tidak berjumlah lebih dari satu dan tidak terbagi ke dalam spesies.[22]
Wujud Tuhan
Ada tiga alasan menurut Al-Kindi yang menunjukkan akan eksistensi Tuhan (wujudullah), yaitu pertama, barunya alam (dalilul huduts), kedua, adanya sesuatu yang esa (dalilul wahdah) dan ketiga, adanya keteraturan dan pengaturan (dalilu an-nidzam wa at-tadbir).[23] Dengan ketiga alasan ini, Al-Kindi membuktikan bahwa alam bersifat baru, terbatas, ada yang lebih awal darinya dan ada permualaannya. Untuk itu alam ini tentunya ada yang menciptakan (al-Muhdits).[24]
Tentang barunya alam, Al-Kindi beralasan bahwa tidaklah mungkin setiap yang memiliki bentuk (ajsam) bersifat kekal (azali). Karena jika terdapat bentuk (jisim) maka terikat oleh waktu (zaman) dan gerak (harakah). Dan setiap waktu dan gerak adalah berubah. Dan setiap yang berubah maka bersifat terbatas. Oleh karena itu, alam yang memiliki bentuk ini bersifat baru (huduts) dan terbatas.[25]
Pencipta alam ini tidak terbatas dan disebut satu yang benar (al-wahid al-haq) yaitu Allah. Dia-lah menciptakan alam dari ketiadaan (al-ijad min al-‘adam/creation ex nihilo) dan tanpa melalui waktu.[26] Dia tidak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak bergerak, tapi dalam realitanya Dialah yang menyebabkan gerak tanpa menggerakkan Diri-Nya.[27]
Alasan kedua tentang wujud Tuhan menurut Al-Kindi adalah keesaan Tuhan. Alam yang terbatas ini tidak mungkin ada dengan sendirinya, akan tetapi pasti ada sebab. Sebab ini bukanlah alam itu sendiri, karena jika alam itu sendiri yang menjadi sebab, maka sebab itu tidak ada habis-habisnya. Oleh karena itu yang menjadi sebab haruslah berada di luar alam dan harus lebih dahulu adanya. Dan sebab (al-‘illat) tentunya harus lebih dulu dari pada akibat (al-ma’lul). Dan sebab ini bersifat tunggal (esa), karena jika terdapat dua sebab, maka sebab yang satu dengan yang lain sama-sama tidak kuasa. Oleh karena itu sebab harus bersifat tunggal dan menjadi penyebab pertama (‘illah ula).[28]
Kemudian alasan ketiga yang menunjukkan adanya Tuhan (wujudullah) adalah dengan adanya keteraturan alam. Menurutnya, alam yang teratur ini tidak mungkin ada dengan sendirinya, tetapi ada yang mengatur. Dan pengatur alam ini tidak mungkin lebih dari satu. Karena jika lebih dari satu maka akan terdapat dua keinginan. Dan jika kedua keinginan tersebut berlainan maka alam ini akan hancur. Oleh karena itu alam yang teratur ini menunjukkan ada yang mengaturnya dan pengaturnya harus esa.[29]
Sifat Tuhan
Diantara sifat Tuhan yang menjadi pembahasan Al-Kindi adalah sifat Tuhan yang Esa. Sifat keesaan Tuhan merupakan sifat yang paling khas bagi-Nya. Tuhan itu satu Dzat-Nya dan satu dalam hitungan. Tuhan dalam filsafat Al-Kindi tidak mempunyai arti aniyah atau mahiyah. Tidak aniyah karena Tuhan tidak dalam benda-benda yang ada dalam alam, bahkan Dia-lah pencipta alam. Dia tidak tersusun dari materi atau bentuk (al-huyuli wash-shurah). Tuhan juga tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiyah, karena Tuhan bukan genus atau spesies.[30]
Tuhan bersifat kekal (azali), yaitu Dzat Tuhan tidak dapat dikatakan tidak pernah ada. Tuhan akan selalu ada dan wujud-Nya tidak bergantung pada selain-Nya dan disebut kebenaran tunggal pertama (al-wahid al-haq al-awwal).[31] Tidak ada yang menjadikan-Nya, justru segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Dzat Tuhan tidak bergerak, karena pergerakan berarti ada pertukaran yang tidak sesuai dengan wujud Tuhan yang sempurna.
Kesimpulan
Tuhan menurut Al-Kindi adalah Pencipta (Al-Mubdi’) alam ini, tidak terbatas dan disebut satu yang benar (al-wahid al-haq) yaitu Allah. Dia-lah yang menciptakan alam dari ketiadaan (al-ijad min al-‘adam/creation ex nihilo). Karena alam diciptakan, maka alam memiliki sifat terbatas dan bersifat baru (huduts). Manusia yang merupakan bagian dari alam juga terbatas. Oleh karenanya Tuhan menurut Al-Kindi tidak dapat dilihat oleh pandangan mata yang terbatas dan Tuhan menurutnya  tidak bergerak, tapi dalam realitanya Dialah yang menyebabkan gerak tanpa menggerakkan Diri-Nya.
Pemikiran Al-Kindi tentang Tuhan tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan pemikiran para filosof Yunani khususnya Aristoteles. Dikatakan signifikan dikarenakan konsep awal yang dibangun oleh Al-Kindi dan filosof Yunani khususnya Aristoteles saling bertentangan. Jika Aristoteles memulai pandangan metafisikanya dengan keyakinan alam bersifat kekal (azali), maka Al-Kindi memulai pandangan metafisikanya dengan keyakinan bahwa alam bersifat baru (huduts). Dengan bukti adanya pertentangan ini, maka anggapan yang menyatakan bahwa pemikiran Al-Kindi terpengaruh oleh pemikiran filosof Yunani terbantahkan.




DAFTAR ISI
Al-Julainid, Muhammad As-Sayyid, Qadiyyatul Uluhiyyah Baina Ad-Din Wal Falsafah (Kairo: Daru Qobail Mathba’ah Wan-Nasyr Wat-Tauzi’, 2001)
Al-Kindi, Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq, Rasailul Kindi Al-Falsafiyyah (Kairo: Darul Fikri Al-Arabi, 1978, cet-2)
Amstrong, Karen, A History of God (New York : Alfred A Knoof, 1993)
Ath-Thawil, Taufiq, Usus Al-Falsafah (Kairo: Mathba’ah Lajnatu At-Ta’lif Wa-Attarjamah Wa-Annasyr, 1958)
Badawi, Abdurrahman, Aristo ‘Inda Arab; Dirasah wa Nusus Ghoiru Mansyurah (Kuwait: Wakalatul Mabtsu’at, 1978, cet.2)
Fakhri, Majid, Aristoteles Al-Mu’allim Al-Awwal (Beirut: Al-Mathba’ah Al-Katsulikiyyah, 1958)
Hadiwijono, Harun, Dr., Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980)
Hakim, Atang Abdul,  Drs. MA dan Drs. Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum; Dari Metologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008)
Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996, cet. Ke-6)
Kulpe, Oswald, Al-Madkhol Ila Al-Falsafah, terj. Abu Al-‘Ala ‘Afifi (Kairo: Mathba’ah Lajnatu At-Ta’lif Wa-Attarjamah Wa-Annasyr, 1955)
Leahi, Lois, Filsafat Ketuhanan Kontemporer (Yogyakarta: Kanisius, 1993)
Marhaban, Muhammad ‘Abdurrahman, Al-Kindi; Falsafatuhu Muntakhobaat  ( Beirut: Mansyuraat ‘Uwaidaat, 1985)
Mudhofir, Ali,  Kamus Filsuf Barat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)
Mustofa, Drs. H. A., Filsafat Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1999)
Nasution, Harun, Prof. Dr., Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973)
Nasution, Hasyimsyah, Dr. MA, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, cet. Ke-4), hal.19-20
Plantinga, Alvin dan Michael Tooley, Knowledge Of God ( USA: Blackwell Publishing, 2008)
Sifa, Anton, Al-Kindi; Falsafatuhu; Makanatuhu ‘Inda Muarrikhiil Falsafah Al-Arabiyyah ( Beirut: Darul Jil, 1985)
Solomon, Robert C. & Kathleen M. Higgins, Sejarah Filsafat,  diterjemahkan oleh Saut Pasaribu daril A Short History Of Philosophy (Jogjakarta: Bentang Budaya, 2003)
Titus, Harold A dkk., “Living Issues In Philosophy,” dalam H. M. Rasyidi, Persoalan-persoalan Filsafat (Jakarta : Bulan Bintang, 1984)
Zarkasy, Hamid Fahmy, The Nature Of God In Aristotle’s Natural Theology (ISID Gontor: Jurnal Tsaqafah, Vol. 4, Nomor 1, 1428 H)


[1]Rudolf Otto, seperti yang dikutip oleh Karen Armstrong, menyebutkan bahwa dalam diri setiap orang, terdapat perasaan keyakinan terhadap adanya kekuatan yang lebih besar dan tinggi, Karen Amstrong, A History of God (New York : Alfred A Knoof, 1993), hal. 5.
[2] Tuhan adalah sesuatu yang disembah, tempat cinta, tempat kembali dan kemuliaan. Tuhan adalah yang mendidik hamba-Nya, menganugerahkan apa yang telah diciptakan-Nya kepadanya, dan memberi petunjuk, dalam segala aspek baik itu yang bersifat ritual ibadah maupun yang bukan. Lihat dalam bukunya Muhammad As-Sayyid Al-Julaindi, Qadiyyatul Uluhiyyah Baina Ad-Din Wal Falsafah (Kairo: Daru Qobail Mathba’ah Wan-Nasyr Wat-Tauzi’, 2001), hal. 256
[3] Karena manusia yang ideal adalah manusia atas, maka pemikiran inilah yang mendorong Nietzsche pada keyakinan bahwa Tuhan (Allah) telah mati. Hanya manusia ataslah yang masih hidup. Dunia ini masih berarti karena “manusia atas”. Maka orang harus setia pada dunia ini, dan tidak perlu percaya akan adanya harapan-harapan yang mengatasi dunia. Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 375. Lihat juga Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hal. 129.
[4] Dikatakan juga bahwa manusia tidak akan dapat menunjukkan eksistensi Tuhan, karena hal yang demikian adalah mustahil (the existence of God is unlikely) Lihat Michael Tooley, Does God Exist? dalam Alvin Plantinga & Michael Tooley, Knowledge Of God ( USA: Blackwell Publishing, 2008), hal. 70
[5] Abdul Mu’thi Muhammad Buyumi, Al-Falsafah Al-Islamiyyah (tanpa tempat dan penerbit, 1999), hal. 141
[6] Anton Sifa, Al-Kindi; Falsafatuhu; Makanatuhu ‘Inda Muarrikhiil Falsafah Al-Arabiyyah( Beirut: Darul Jil, 1985), hal. 24-25. Lihat juga dalam bukunya A. Mustofa, Filsafat Islam(Bandung: Pustaka Setia,1999), hal. 99-100
[7] A. Mustofa, Ibid, hal. 100
[8] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1996, cet. Ke-6), hal. 73
[9] Drs. Atang Abdul Hakim, MA dan Drs. Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum; Dari Metologi Sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal. 422
[10]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Rasailul Kindi Al-Falsafiyyah ( Kairo: Darul Fikri Al-Arabi, 1978, cet-2), hal. 5.
[11] Ahmad Hanafi, MA, Ibid, hal. 74
[12] Dalam bahasa arabnya "الحكمة ضالة المؤمن، خذ الحكمة ولايضرك من أي إناء خرجت" dan "لاتعرف الحق بالرجال، إعرف الحق تعرف أهله" Lihat dalam Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Op.Cit, hal. 8
[13]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Ibid, hal. 9
[14] Taufiq Ath-Thawil, Usus Al-Falsafah (Kairo: Mathba’ah Lajnatu At-Ta’lif Wa-Attarjamah Wa-Annasyr, 1958), hal. 165
[15] Thales memulai pembahasannya dari teori fisika tentang hakikat ada. Menurutnya, asas dari segala sesuatu yang ada adalah air, lihat dalam bukunya Oswald Kulpe, Al-Madkhol Ila Al-Falsafah, terj. Abu Al-‘Ala ‘Afifi (Kairo: Mathba’ah Lajnatu At-Ta’lif Wa-Attarjamah Wa-Annasyr, 1955), hal. 156
[16] Menurut Andronicus sebagai kepala madrasah paripatetik yang ke-11, Aristoteles merupakan orang yang pertama kali memunculkan istilah metafisika (ma ba’da ath-thabi’ah) dengan sebutan al-falsafah al-ula dengan alasan agar dapat dibedakan dengan al-falsafah ats-tsaniah yakni ilmu alam/fisika (al-‘ilmu ath-thabi’i) yang muncul terlebih dulu, dia juga menyebutnya denga hikmah karena membahas tentang sebab pertama (first cause/al-‘illah al-ula) dan dia juga menyebutnya sebagai ilmu tentang Tuhan (al-ilmu al-Ilahi) karena sebagian besar pembahasannya tentang Tuhan (Allah) sebagai wujud pertama (al-maujud al-awwal) dan sebab pertama. Taufiq Ath-Thawil, Op.Cit, hal. 167
[17] Taufiq Ath-Thawil, Ibid, hal. 165
[18]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Op.Cit, hal. 12
[19] Hamid Fahmy Zarkasy, The Nature Of God In Aristotle’s Natural Theology (ISID Gontor: Jurnal Tsaqafah, Vol. 4, Nomor 1, 1428 H), hal. 39
[20] Prof. Dr. Harun Nasution, Filsafaat Dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal.16. Lihat juga dalam bukunya Dr. Hasyimsyah Nasution, MA, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, cet. Ke-4), hal.19-20. Lihat juga Drs. H. A. Mustofa,Op.Cit, hal. 109
[21]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Op.Cit, hal. 107
[22]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Ibid, hal. 104-105
[23]Muhammad ‘Abdurrahman Marhaban, Al-Kindi; Falsafatuhu Muntakhobaat(Beirut: Mansyuraat ‘Uwaidaat, 1985), hal. 91.
[24]Muhammad ‘Abdurrahman Marhaban, Ibid, hal. 92. Berbeda halnya dengan filosof Yunani (Aristoteles) yang menyatakan bahwa alam ini bersifat abadi (azali), lihat dalam bukunya Muhammad Ghilab, Musykilatul Uluhiyyah (Mesir: Daru Ihyai Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1951), hal. 35. Aristioteles membentuk Tuhan yang diyakininya sebagai penggerak pertama yang tidak digerakkan (unmoved mover), lihat dalam bukunya Majid Fakhri, Aristoteles Al-Mu’allim Al-Awwal (Beirut: Al-Mathba’ah Al-Katsulikiyyah, 1958), hal. 174
[25]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Op.Cit, hal. 13
[26] Anton Sifa, Al-Kindi; Falsafatuhu; Makanatuhu ‘Inda Muarrikhiil Falsafah Al-Arabiyyah(Beirut: Darul Jil, 1985), hal. 34
[27] M.M Syarif, A History Of Muslim Philosophy (Lahore: Saddar-Karachi, 1961, vol.I), hal. 428
[28]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Op.Cit, hal. 20
[29]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Ibid, hal. 18
[30]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi, Ibid, hal. 104
[31]Abi Yusuf Ya’qub Bin Ishaq Al-Kindi,Ibid, hal. 106