Thursday, 11 October 2012

BIOGRAFI IBNU MASKAWAIH

Riwayat Hidup Maskawaih
Maskawaih adalah seorang filsuf muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarahwan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia dan India, di samping filsafat Yunani sangat luas.
            Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Maskawaih atau Ibnu Maskawaih. Nama itu diambil dari nama kakeknya yang beragama Majusi (Persia) kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syiah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Maskawaih tergolong penganut aliran Syiah. Gelar lain juga sering disebutkan, yaitu Al-Khazim, yang berarti bendaharawan disebabkan pada masa kekuasaan Adhud Al-Daulah dari Bani Buwaih ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya.
            Maskawaih dilahirkan di Ray (sekarang Teheran). Mengenai tahun kelahirannya, para penulis menyebutkannya berbeda-beda. M.M Syarif menyebutkan tahun 320 H/932 M. Margoliouth menyebutkan tahun 330 H/932 M. Abdul Aziz Izzat menyebutkan tahun 325 H sedang wafatnya (semua sepakat) pada 9 Shafar 421 H/16 Februari 1030 M.
            Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Maskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaih yang beraliran Syiah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaih yang mulai berpengaruh sejak khalifah Al-Mustkfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai Pedana Menteri (Amir Al-Umara’) dengan gelar Mu’izz Al-Daulah pada 945 M. Ayahnya, Abu Syuja’ Buwaih, adalah pemimpin suku yang amat gemar berperang, dan kebanyakan pengikutnya berasal dari daerah Pegunungan Dailan di Persia, di Pegunungan pantai selatan Laut Waswain yang merupakan pendukung keluarga Saman. Tiga anak Buwaih, diantaranya Ahmad bin Buwaih, mengadakan ekspansi ke daerah selatan, hingga berhasil menduduki Asfahan, kemudian Syiraz dan daerah sekitarnya pada tahun 934 M. Dua tahun berikutnya dia berhasil menaklukka Khuziztan (dulu Akhwaz dan Karman). Kemudian Syirazlah yang dipilih menjadi ibukota kekuasaan mereka. Pada tahun 1945 M, Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap Bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan Khalifah-Khalifah Bani Abbas.
            Puncak prestasi atau zaman keemasan kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud Al-Daulah yang berkuasa dari tahun 367-372 H. ‘Adhud Al-Daulah adalah penguasa Islam yang pertama kali menggunakan gelar Syahinzah yang berarti maharaja, gelar yang dipergunakan raja-raja Persia Kuno. Kecuali prestasinya dalam bidang politik yang luar biasa, yang telah berhasil menyatukan kembali negara-negara kecil yang telah memisahkan diri dari pemerintahan pusat hingga menjadi imperium besar sebagaimana yang dialami pada masa Harun Ar-Rasyid, ‘Adhud Al-Daulah amat besar juga perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Pada masa inilah Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan ‘Adhud Al-Daulah, dan pada masa ini jugalah Maskawaih muncul sebagai seorang filosuf, tabib, ilmuwan dan pujangga. Tetapi di samping itu, ada hal yang tidak menyenangkan hati Maskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Maskawaih lalu tertarik untuk menitik beratkan perhatiannya pada bidang etika Islam.
Riwayat Pendidikan Maskawaih
            Riwayat pendidikan Maskawaih tidak diketahui dengan jelas. Maskawaih tidak menulis autobiografinya, dan para penulis riwayatnya pun tidak memberikan informasi yang jelas mengenai latar belakang pendidikannya. Namun demikian dapat diduga bahwa Maskawaih tidak berbeda dari kebiasaan anan menuntut ilmu pada masanya. Ahmad Amin memberikan gambaran pendidikan anak pada zaman Abbasiyah bahwa pada umumnya anak-anak bermula dengan belajar membaca, menulis, mempelajari Al-Qur’an dasar-dasar bahasa arab, tata bahasa arab (nahwu) dan ‘arudh (ilmu membaca dan membuat syair). Mata pelajaran-pelajaran dasar tersebut diberikan di surau-surau; dikalangan keluarga yang berada dimana guru didatangkan ke rumahnya untuk memberikan les privat kepada anak-anaknya. Setelah ilmu-ilmu dasar itu diselesaikan, kemudian anak-anak diberi pelajaran ilmu fiqh, hadist, sejarah (khususnya sejarah Arab, Parsi dan India) dan matematika. Kecuali itu diberikan pula macam-macam ilmu praktis, seperti: music, bermain catur dan furusiah (semacam ilmu kemiliteran).
            Diduga Maskawaih pun mengalami pendidikan semacam itu pada masa mudanya, meskipun menurut dugaan juga Maskawaih tidak mengikuti pelajaran privat, karena ekonomi keluarganya yang tidak mampu mendatangkan guru, terutama untuk pelajaran-pelajaran lanjutan yang biayanya mahal. Perkembangan ilmu Maskawaih terutama sekali diperoleh dengan jalan banyak membaca buku, terutama disaat memperoleh kepercayaan menguasai perpustakaan Ibny Al-‘Amid, menteri Rukn Al-Daulah, juga akhirnya memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawaan ‘Adhud Al-Daulah.
            Pengetahuan Maskawaih yang amat menonjol dari hasil membaca buku ialah tentang sejarah, filsafat dan sastra. Hingga saat ini Maskawaih dikenal terutama sekali dalam keahliaannya sebagai sejarahwan dan filosuf. Sebagai filosuf, Maskawaih memperoleh sebutan Bapak Etika Islam, karena Maskawaihlah yang mula-mula mengemukakan teori etika dan sekaligus menulis buku tentang etika.
            Adapun karya-karya Maskawaih yang dapat terekam oleh para penulis (sejarahwan) diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Kitab Al-Fauz Al-Asghar tentang Ketuhanan, jiwa dan kenabian (metafisika).
2.      Kitab Al-Fauz Al-Akbar, tentang etika.
3.      Kitab Thabarat An-Nafs, tentang etika.
4.      Kitab Tahdzib Al-Akhlak wa Thathhir Al-‘Araq, tentang etika.
5.      Kitab Tartib As-Sa’adat, tentang etika dan politik terutama mengenai pemerintah Bani ‘Abbas dan Banu Buwaih.
6.      Kitab Tajarib Al-Umam, tentang sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa sejarah sejak setelah air bah Nabi Nuh hingga tahun 369 H.
7.      Kitab Al-Jami’ tentang ketabiban.
8.      Kitab Al-Adwiyah tentang obat-obatan.
9.      Kitab Al-Asyribah tentang minuman.
10.  Lotab Al-Mustaudi, berisi kumpulan-kumpulan syair pilihan.
11.  Kitan Maqalay fi Al-Nafsi wa Al-Aql tentang jiwa dan akal.
12.  Kitab Jawizan Khard (akal abadi), yang membicarakan panjang lebar tentang pemerintahan dan hokum yang berlaku di Arab, Persia, India dan Romawi.
Sebenarnya masih banyak karya-karya dari Maskawaih yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dasar-dasar Etika Maskawaih
            Sebagai bapak etika islam, maskawaih dikenal juga sebagai guru yang ketiga (المعلم الثالث), setelah Al-Farabi yang digelari guru kedua (المعلم الثاني), sedangkan yang dipandang sebagai guru yang pertama (المعلم الأول) adalah Aristoteles. Teorinya tentang etika secara rinci ditulis dalam kitab Tahdzib Al-Akhlak wa Thathhir Al-‘Araq (pendidikan budi dan pembersihan watak).
            Maskawaih membagi kitabnya itu menjadi tujuh bagian. Bagian pertama membicarakan perihal jiwa yang merupakan dasar pembahasan akhlak. Bagian kedua membicarakan manusia dalam hubungannya dengan akhlak. Bagian ketiga membicarakan perihal kebajikan dan kebahagiaan yang merupakan inti pembahasan tentang akhlak. Bagian keempat membicarakan perihal keadilan. Bagian kelima membicarakan perihal cinta dan persahabatan. Bagian keenam dan ketujuh membicarakan perihal pengobatan penyakit-penyakit jiwa.
            Sesuai dengan pembagaian kitab Tahdzib menjadi tujuh bagian, kita dapat melihat bahwa tiap-tiap bagian tidak hanya berbicara tentang suatu topic khusus, melainkan banyak hal lain juga yang dibicarakan dalam satu bagian bahkan suatu masalah dibicarakan secara berulang–ulang dalam bagian-bagian lain. Misalnya dalam bagian pertama yang membicarakan masalah jiwa, tidak secara tuntas masalahnya diselesaikan. Perihal kekuatan jiwa dibicarakan dalam bagian kedua. Dalam bagian ketiga dibicarakan juga keabadiaan jiwa menurut Aristoteles.
1.      Unsur-Unsur Etika Maskawaih
            Teori etika Maskawaih bersumber pada filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam dan pengalaman-pengalaman pribadi. Pengaruh Plato, Aristoteles dan Galen amat jelas dalam teori etika Maskawaih. Usaha Maskawaih adalah mempertemukan ajaran syariat Islam dengan teori-teori etika dalam filsafat, setelah berusaha mempertemukan antara berbagai macam teori etika dan filsafat.
2.      Pengertian Akhlak     
            Kata akhlak adalah dalam bentuk jamak (plural) dari kata khuluq. Menurut Maskawaih khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Dengan kata lain, khuluq adalah peri keadaan jiwa yang mendorong timbulnya perbuatan-perbuatan secara spontan. Peri keadaan jiwa itu dapat merupakan fitrah sejak kecil dan dapat pula merupakan hasil latihan membiasakan diri.
3.      Keutamaan (fadhilah)
            Menurut Maskawaih keutamaan-keutamaan jiwa itu ada empat macam, yaitu hikmah (wisdom), ‘Iffah (kesucian), Syaja’ah (keberanian) dan ‘Adalah (keadilah). Menurutnya, kebijaksanaan adalah keutamaan jiwa cerdas. Kesucian adalah keutamaan nafsu syahwat; keutamaan lahir jika manusia dapat menyalurkan syahwatnya sejalan dengan pertimbangan akal yang sehat hingga ia bebas dari perbudakan syahwatnya.
4.      Kebahagiaan (sa’adah)
Maskawaih membedakan antara al-khair (kebaikan)  dan as-sa’adah (kebagiaan). Kebaikan menjadi tujuan semua orang dan kebaikan umum bagi seluruh manusia dalam kedudukan sebagai manusia. Sedang kebahagiaan adalah kebaikan bagi seseorang, tidak bersifat umum, tetapi relative bergantung pada orang perorang. Dengan demikian kebaikan mempunyai identitas tertentu sedangkan kebahagiaan berbeda-beda tergantung kepada orang-orang yang berusaha memperolehnya.
5.      Cinta (mahabbah)
Cinta menurut Maskawaih terbagi menjadi 2 macam yaitu cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia. Cinta yang tinggi nilainya adalah cinta kepada Allah, tetapi cinta tipe ini hanya dapat dicapai oleh sedikit orang.

No comments: